RABU,
11 JANUARI 2012
Entah apa yang membius otakku akhir akhir ini
sehingga aku dapat lebih bersemangat untuk kembali menulis. Tapi untuk kali
ini, aku lebih meringankan bobot tulisanku. Tak seperti tulisan Chairil Anwar
ataupun Andrea Hirata yang menyajak dan menyastra seperti itu. Tulisanku ini
tak lebih seperti catatan anak kelas 2 SMA yang sedang gncar mencari ide untuk
dituangkan kedalam buku hariannya.
Yah, seperti anak berusia 15 tahun pada umumnya, yang suka sekali menulis,
membaca tabloid, majalah, buku-buku detektif, novel dwilogi,trilogy, maupun
beberapa teenlit yang memiliki pesan moral baik seperti contoh Perahu Kertas,
ataupun teenlit keluaran Gramedia Pustaka Utama yang punya kata-kata humor
berbobot tiap alineanya. Seperti Oksimoron-nya Isman H. Suryaman.
Ohya, sudah kukatakan belum sekarang aku menggilai fashion? Hanya karena
tidak memiliki uang bernominal lima angka dibelakang angka satu, aku pun harus
mendownload dan browsing di dunia virtual atau dunia maya untuk mencari kamus
fashion. Oke, well. Pasti kau bertanya-tanya mengapa aku berdandan seperti
biasa walau aku penggila fashion. STOP!
Aku ralat agar kau lebih mengerti : aku ingin menjadi pengamat atau
pemerhati fashion , disamping itu menjadi penerjemah atau translator atau
editor penulis terkenal atau majalah yang kehilangan editor profesionalnya. Sehingga
banyak sekali kalimat tidak efektif ataupun kalimat yang tidak enak dibaca
berhamburan sana-sini. Atau kalau begitu, jadi wartawan VOA sajalah, yang
selalu bertandang ke mancanegara untuk menyunting atau sekedar menanyai
narasumber dengan bahasa asing. Betapa keren dan indahnya! J Atau kalau begitu, menjadi entrepreneur sukses yang memiliki banyak
perusahaan dan aktif membantu orang lain.
Eit, enough !
Kalau di “atau-kalau-begitu” kan terus menerus, sehalaman ini bakal
tidak berganti topik karena begitu banyaknya target dan mimpiku kedepannya.
Sudahlah,
Cukup sampai disini ya.
Aku akan kembali dengan kisah simple yang
menurutku sangat menarik =).

0 komentar:
Posting Komentar