Bicara soal mimpi dan harapan, memang gak ada habisnya. Ditambah lagi, hobi saya yang senengnya mimpi. Entah itu memimpikan sebuah damba dan cita-cita atau mimpi dalam tidur. Hobinya saya bermimpi soalnya. Nah, karena itu kenapa saya sukanya berharap dan komat-kamit sendiri jika bicara soal mimpi. Entah itu, dapet erasmus mundus lah, fellowship go to abroad lah, untung-untung juga rejeki nomplok buat pergi dan hang out ke Manhattan buat nyambangi Fifth Avenue.
ƪ(˘⌣˘)┐ ***Kaya mendadak.***
Mimpiku gak muluk- muluk kok :) *Emang yang muluk-muluk itu yang seperti sih?
Pingin ke luar negeri dan belajar sastra disana. Dan nggak ketemu lagi sama teori hitung-hitung yang nggak jodoh banget sama hidupku. ◦^⌣^◦ Sedang, saya juga orangnya agak oportunis retoris. Pingin ambil yang enaknya aja. Tapi, emang bermimpi nggak ada yang nggak enak. Semuanya terasa melenakan. Berasa ditimang-timang disana, sampai-sampai aku jadi keranjingan mimpi, a.k.a.lebih sering bermimpi daripada belajar. *Ngerjain soal-soal eksakta yang butuh pengurasan otak berlebihan.
Nah, jangan ditiru ya. Itu salah satu kesalahan paradigma setelah baca quotationnya Albert Einstein.>> Imajinasi lebih luas daripada ilmu pengetahuan.
Nah, akhir-akhir ini baru saya tahu, bahwa kecerdasan sejati lebih luas daripada imajinasi. Yah,yah. Sudahlah, bukan masalah yang berarti. Jadi, nggak selalu saya pikirkan.
Sudah lama, nggak nyentuh jurnal tentang mimpi. Dulu, waktu masih kelas satu SMA, setiap malem, seringnya buka-buka jurnal impian walau nulisnya cuma satu kalimat. Seperti contoh, Oxford,i`ll be coming as soon as possible.
Berhubung, saya pingin banget punya foto wisuda bareng-bareng sama mahasiswa oxfordpress university lainnya (tentunya setelah menuntaskan prodi di univ.oxford--Oxfordshire). (´⌣`ʃƪ) Semogaaa..
Dan masih banyak lagi kata-kata penyemangat lain tentang mimpi-mimpi saya di jurnal sederhana itu. Tapi nggak tahu sekarang pergi kemana... *nggak primpen sih.
Padahal, banyak sekali fondasi-fondasi mimpi yang saya kumpulkan dalam jurnal sederhana yang saya beli di koperasi pondok saya setahun silam itu.
Dan sekarang, saya sedang dan sudah menyusun kembali puing-puing semangat dan mimpi-mimpi saya waktu kelas satu SMA dulu. *masa-masa anak polos yang rajin.
Walaupun, saya sudah tahu jelas apa yang menjadi *sesuatu yang saya bisa lakukan dengan baik dan tanpa paksaan* seperti belajar IPS dan bahasa + menulis dan corat-coret nggak jelas + saya sudah tahu jelas apa yang akan saya tuju (universitas dan prodi) setelah lulus SMA nanti + visualisasi tentang pekerjaan apa yang mejadi target saya, tapi teteuup saja. Saya semakin hari semakin takut menatap masa depan. *suram.
Butuh mental yang kuat untuk menghadapi segala terpaan dan cobaan esok hari.
Tapi, esok hari adalah hak Allah. Siapapun nggak ada hak buat nge-judge dirinya seperti apa.
Tapi, satu yang saya percaya akan semua hal yang sudah saya lalui, termasuk mimpi-mimpi dan harapan esok hari,
segala sesuatunya terjadi karena sebuah alasan. Dan di bagi-Nya, itulah yang terbaik.
Future *Lalalala.
Rabu, 27 Juni 2012
Diposting oleh Ms. Avenue di 22.27
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar